Kamis, 02 Juni 2016

Strobe Edge - Part 1

  

Didalam sebuah kereta, Ninako melihat dikejauhan sosok cowok yang sangat ingin ditemuinya, Ren Ichinose.  Dengan tangannya membentuk teropong ia melihat cowok itu berdiri untuk memberikan kursinya pada seorang wanita hamil. lalu ia melangkah menuju pintu keluar kereta. 


Ninako buru-buru bangkit berdiri dan menyusul Ren berdiri di dekat pintu kereta. Ren tersenyum ramah melihat Ninako memperhatikannya. Lalu cowok itu berpaling melihat keluar jendela.

Pandangan mata Ninako tak sedikitpun berpaling dari wajah Ren. Cowok itu menyadarinya, ia menoleh dan memperhatikan Ninako dengan tersenyum penuh tanda Tanya.
Kareta berhenti dan Ren langsung berjalan keluar dari kereta.

“Duluan ya.” Ucap Ren tanpa berbalik.


Ninako ikut keluar dari kereta dan pergi menyusul Ren. Langkah Ren sangat cepat dan membuat Ninako sedikit berlari untuk menyusul Ren.
“Ren-kun!” panggil Ninako.
Ren menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Ninako. “Ada apa?”

“Ano nee... Aku... Aku... Suka padamu.” Ucap Ninako tersenyum gugup.

Ren agak terkejut dengan pernyataan cinta yang tiba-tiba itu.
“Terima kasih... ...tapi aku sudah milik orang lain.” Jawab Ren menolak cinta Ninako
“Ya, aku tahu.” Ucap Ninako tulus. Gadis itu sudah bisa menebak akan seperti ini jadi ia sudah mempersiapkan hatinya saat penyataan cintanya di tolak Ren.



“Maaf.” Kata Ren lagi
“Tak apa. Aku memang hanya ingin memberi tahu mu saja. Aku lega sekarang. Aku harap kita masih bisa berbicara satu sama lain dari sekarang... ano... sebagai seorang teman.”

“Ya, tentu saja.” Ucap Ren tersenyum.



Saat jam istirahat Ninako bersama dengan kedua temannya pergi ke kantin sekolah dari jauh mereka melihat Ren sedang dikantin juga bersama temannya.

“Ichinose Ren masih keren seperti dulu, ya?” kata salah satu teman Ninako
“Kau benar.” Sahut Ninako
“Kau sudah punya Daiki , kan?” Goda temannya

“Aku tidak memiliki hubungan dengannya!” bantah Ninako.
Tiba-tiba Daiki datang dan menepuk bahu Ninako dan temannya.

“Aku mendengar kalian sedang membicarakan ku, ya?” kata daiki pada mereka.

“Bukan kamu.” Bantah Ninako
“ah iblis yang dibicarakan malah disini” seru salah satu cewek teman Ninako
“Ada apa denganmu?” gerutu Ninako karena ucapan cewek itu berarti mengiyakan klo mereka tadi sedang membicarakan Daiki.
Cowok itu melihat wajah cemberut Ninako dan langsung menunjuk dahi Ninako yang
“Hei, ada apa denganmu?”



Flash back awal pertemuan Ninako dan Ren.

Didalam kereta yang dinaiki Ninako tanpa sengaja HP yang dipegangnya terjatuh dan terinjak oleh Ren yang saat itu lewat didepannya. Kaki Ren tak bisa menghindar dan menginjak gantungan HP Ninako sampai pecah. Keduanya sangat terkejut.
“Maaf, nanti akan ku ganti untuk mu.” Kata Ren bersalah.

Ia berjongkok mengambil HP Ninako yang dilantai. Cowok itu berpaling memperhatikan Ninako “Kamu kelas berapa?” Tanyanya. Dilihat dari seragamnya, Ren tau gadis itu dari sekolah yang sama dengannya.

“Aku kelas X-1, Kinoshita Ninako.” Sahut Ninako cepat sambil membungkukkan badannya pada Ren yang sedang jongkok didepannya itu. Ren sedikit terkejut dengan jawaban yang sangat cepat dari gadis itu.

“Maaf.” Ucap Ren sekali lagi.



Esok harinya Ren tiba-tiba masuk ke dalam kelas Ninako dan membuat semua terkejut melihat cowok populer itu ada masuk ke kelas mereka.
Ren berdiri didepan meja Ninako dan mengulurkan sebuah bungkusan pada gadis itu.

“Ini… Aku memilihnya secara acak...Tapi ini memang tidak sama persis seperti milikmu. Jika kamu tidak menyukainya, kamu bisa tinggal membuangnya saja.” Kata Ren agak grogi melihat puluhan mata memperhatikannya. Ren lalu berjalan keluar kelas.

“Aku tidak akan membuangnya.” Seru Ninako mengejar Ren. “Bagiku siapapun yang melakukan sesuatu untuk ku...tidak peduli apapun itu, aku sangat berterima kasih untuk itu. Jadi aku tidak akan membuangnya.”
Ren tersenyum “Terima kasih.”
Cowok itu lalu pergi.


Ninako membuka bungkusan dari Ren dan melihat gantungan HP yang sangat feminim sekali berbentuk kupu-kupu. Ninako tak bisa membayangkan betapa malunya Ren saat membeli gantungan yang feminim itu untuknya.

Sejak kejadian itu mereka saling menyapa saat mereka bersisipan dijalan dengan tersenyum atau dengan sebuah anggukan kepala.
  


Suatu hari saat pulang sekolah Daiki tiba-tiba menyatakan perasaannya pada Ninako “Mau pergi kecan dengan ku? Aku selalu menyukai mu sejak di SMP. Ketika orang tuaku memutuskan untuk bercerai... ...di masa-masa depresi ku... .kau selalu ada bersamaku. Sejak saat itu, aku hanya selalu memperhatikanmu.”

“Maaf... aku tidak bisa menjawab perasaan mu itu.” Tolak lembut Ninako pada Daiki. Ia sudah berteman dengan Daiki sangat lama tapi ia tak pernah merasakan perasaan apapun pada sahabatnya itu.

Mereka berdua lalu berjalan pulang
 “Aku tahu kau menyukai Ichinose, kan? “ kata Daiki. Ia pernah melihat Ninako yang diam-diam sering memperhatikan Ren dari jauh. “Tapi dia kan sudah punya pacar.
Dan pacarnya... adalah kakak ku sendiri.”

“Begitu ya.” Kata Ninako pelan.



Ninako tau Ren sudah punya pacar seorang model cantik. Ia pernah melihat gadis itu datang menjemput Ren saat Pulang sekolah.



Saat Ninako memberitahukan perasaannya pada sahabat ceweknya. Mereka terkejut karena mereka mengira Ninako menyukai Daiki.
“Kenapa kau bisa menyukai Ren?
“Memangnya bodah ya, menyukai orang yang sudah punya pacar?” aku Ninako dengan lemah.
“Ya... Itu bahkan lebih dari sebuah alasan. Kenapa tidak menyerah saja?”
“Dia tidak mungkin akan membalas cintamu.”
“Ya...menyerah lah!” saran sahabatnya saat itu.

Tapi pada akhirnya Ninako menyatakan perasaannya juga pada Ren dan pada akhirnya cintanya ditolak Ren.




Awal semester baru telah dimulai. Setelah libur panjang akhirnya Ninako harus kembali ke sekolah. Ninako melangkah pelan mengingat ia akan bertemu Ren pertama kalinya setelah penolakan itu.

Ninako dan kedua sahabatnya memperhatikan papan pengumuman untuk melihat kelas mereka yang baru. Ninako senang bisa sekelas lagi dengan sahabatnya tapi ia terkejut saat ia mengetahui klo ia 1 kelas dengan Ren.



Mereka bertiga melongok ke dalam kelas dan melihat Ren memang sudah berada didalam kelas.

“Jadi, apa kau siap?” Tanya salah satu sahabatnya. Ninako mengangguk pelan.
“Kalau begitu... Cepat pergi dan sapa dia!” dorong mereka.
Tubuh Ninako terdorong kedepan dan menabrak seorang cowok yang sedang berjalan keluar kelas.
“Maafkan aku.” Kata Ninako bersalah
“Kau mengejutkan ku.” Kata cowok itu memperhatikan Ninako.
“Aku benar-benar minta maaf.” Kata Ninako lagi.



Cowok itu mengenali wajah ninako dan memperhatikan wajah Ninako dengan sangat dekat.

“Kau yang ditolak cintanya sama Ren pada saat liburan musim semi, kan?” seru cowok itu dengan suara keras dan membuat 1 kelas menoleh memperhatikan mereka berdua.

“Jangan keras-keras juga mengatakannya!” gerutu Ninako malu karena semua memperhatikan dan menertawaknnya. Ren juga menoleh memperhatikan mereka berdua.

“Dan bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Tanya Ninako.

“Saksi, aku adalah salah satu saksi yang melihat mu disana. Seluruh murid di sekolah ini juga sudah tahu semua, Menyatakan cinta pada pria itu sudah pasti jadi gosip di sekolah ini.” Jawab cowok itu.
Ninako dengan sangat malu berjalan menuju ke mejanya. Ren melirik memperhatikan wajah Ninako yang tertunduk.



 Saat akan pulang sekolah, Ninako dan Ren berpapasan. Ren berhenti dan tersenyum pada ninako
“Kinoshita-san, mohon bantuannya untuk satu tahun ini, ya?” kata cowok itu.
“ya Baik.” Jawab Ninako tersenyum.

“Baiklahlah kalau begitu. Sampai jumpa besok.” Pamit Ren. Cowok itu lalu pergi lebih dulu.


 Ninako dan sahabatnya ikut berjalan pulang.
“Hei, ada apa dengan pria itu?” seru sebuah suara cowok.
Ninako menoleh dan melihat cowok yang tadi pagi sudah membocorkan rahasianya, Takumi Andau.

“Dia berbicara sangat santai denganmu. Bukankah ego-nya terlalu besar?” lanjut Andau sambil berjalan bersama Ninako dan sahabatnya.
“Bukan seperti itu masalahnya. Dia hanya tidak ingin aku malu, dan itulah sebabnya dia memperlakukan ku seperti biasa sama seperti yang lain.” Bela Ninako.

“Apa itu tidak papa?” Tanya Andau
“Tidak papa, kok. Akulah yang meminta dia untuk melakukannya.” Sahut Ninako.
  


Karena berita penolakan Ren sudah menyebar disekolah maka Ninako tiba-tiba didatangi oleh kakak kelasnya dan diajak ke grup cewek-cewek yang ditolak Ren.

“Beberapa dari kita ini telah ditolak oleh Ren, kan?” kata salah satu cewek
“Apa?” Ninako tidak paham maksud kakak kelasnya

“Kau sangat berani sekali menyatakan cinta sama dia di stasiun kereta? Itu hebat sekali... kami sangat kagum denganmu.”kata seorang cewek lainnya sambil memeluk bahu Ninako

“Oh..”gumam Ninako

“Itulah sebabnya... ...kau sangat kecewa dengannya, kan? dengan Ichinose Ren.” Kata cewek lainnya lagi
“Apa?”

“Dan sekarang dia benar-benar berpacaran dengan Mayuka, seorang model. Berpura-pura terlihat sangat serius sehingga tidak bisa melihat wajah aslinya. Iyakan…” kata salah satu cewek memperlihatkan sampul majalah yang ada wajah Mayuka, pacar Ren.

"Mengapa gadis normal dan biasa ini mengaku lebih memilih aku?" Dia pasti berpikir begitu! Iya, kan?” lanjut cewek lainnya yang sepertinya sangat sakit hati karena ditolak cintanya sama Ren.

“Ini sangat aneh! Kenapa kalian bisa berbicara seperti itu kepada orang yang kalian suka?” Tanya Ninako pada cewek-cewek itu.

“Kenapa kau membelanya?”

“Kalian bisa mengatakan apapun yang kalian mau tentang diriku... tapi... jangan mengatakan hal-hal buruk tentang Ren-kun.” Lanjut Ninako

“Mengapa kau melindungi orang yang seperti itu? meskipun kau ditolak tetapi kenapa kau bertindak seolah-olah kau seperti pacarnya saja? Sangat lucu sekali, kan?”
“Benar.”
“Terlalu munafik, kan?” mereka tertawa-tawa sambil meninggalkan Ninako.

“Omong kosong. Semua yang kalian katakan itu "Omong Kosong". Omong kosong, Omong kosong!” teriak ninako
Grup cewek yang ditolak Ren menolah dan meliriknya “Ada apa dengannya?”



Dari sebuah jendela ternyata Andau melihat kejadian itu.
“Gadis itu... menangis gara-gara untuk melindungimu!” katanya pada Ren yang kebetulan lewat didekatnya.
Ren menghentikan langkahnya dan melihat Ninako bersama sekelompok cewek yang pernah ia tolak.


Saat pemilihan pengurus kelas, tidak ada yang dengan sukarela mendaftar dirinya. Karena itu pak guru memilih secara acak saja dan nama-nama yang terpilih adalah Ren dan Ninako.

Andau yang melihat keduanya jadi pengurus kelas langsung mengangkat tangannya.
“Pak guru, saya mau menjadi sukarelawan.” Serunya.
“Oh, Baiklah.” Kata pak guru menyetujuinya.



Pulang sekolah ketiganya pergi untuk membeli kebutuhan kelas mereka untuk event tahunan disekolah.
Ninako dan Ren berjalan dengan langkah cepat agar semua barang-barang yang dibutuhkan kelas cepat terkumpul.

“Tunggu aku!” seru andau yang berjalan dibelakang mereka dengan membawa barang yang sangat banyak “kalian berdua berjalan terlalu cepat!”

Teriakan andau tidak dihiraukan Rend an Ninako karena keduanya sedang membahas barang-barang yang blom terbeli.

“Apa kalian mendengarku?” seru Andau lagi.
Keduanya menoleh pada Andau.

“Ayolah, kau harus jalan sedikit lebih cepat.” Sahut Ninako
“Ando jalanmu terlalu lambat.” Gerutu Ren
“Aku bahkan sudah mengikuti kalian berdua, kalian tau?” Kata Ando
“Kau sendiri yang mengajukan dirimu sendiri, ingat?”

“Benar-benar tidak menyenangkan. Aku lelah sekali! Aku bilang aku ingin istirahat.” Teriak Andau seperti anak kecil.
Ren dan Ninako menghentikan langkahnya dan menoleh pada Ando
“masih ada tempat yang harus kita datangi”
“Aku haus. Aku lapar. Aku hanya ingin duduk...” kata Ando sambil duduk di sebuah kursi di jalan.

“lalu kita mencari cafe untuk duduk?” Kata Ninako menawarkan pada Ren.
Andau langsung tersenyum senang dan berlari mendekati Ren Ninako.
“Itulah yang aku tunggu-tunggu!”



“Ren!” panggil sebuah suara cewek.
Ren mengenali suara itu dan melihat kearah suara.
Dari dalam mobil seorang gadis cantik keluar dan tersenyum pada Ren .
“Mayuka!



Mereka lalu pergi ke sebuah kafe dan memesan makanan.

“Maaf tiba-tiba menganggu kalian?” ucap Mayuka

“Tidak papa, jika yang menggangunya seorang model cantik.” Canda Ando. Ia melihat Mayuka tidak memesan makanan apapun hanya sebuah minuman.
“Oh, apa Mayuka-san hanya ingin minum ini saja?”
“Ya, akhir-akhir ini berat badanku bertambah!” jawab Mayuka
“Begitu ya.” Andau melirik ke Ninako yang sedang makan donat dengan lahapnya.
“Ninako-chan gadis yang banyak makan, ya?” ucap Andau membandingkan Ninako dan mayuka.

Mayuka tersenyum memperhatikan Ninako yang sedang makan “Tapi, gadis yang makan banyak ini masih sangat imut, kan?Jika aku bukan model, mungkin aku akan sama saja.” Bela mayuka pada Ninako.

“Eh, begitu ya.” Ando mengangguk-angguk.



Tatapan Mayuka tiba-tiba melihat gantungan HP Ninako yang sedang ada dimeja.

“Oh, gantungan ini? Jangan-jangan gantungan yang Ren rusakin itu punyanya Ninako-chan?” serunya terkejut

“Ya, benar.” Ren mengiyakan.

“Dia cukup bingung ingin membeli yang seperti apa... dan dia bahkan harus minta pendapat ku.” Goda Mayuka pada Ren.
“Hal seperti itu tidak usah dibicarakan.” Ucap Ren terlihat malu.


Ninako hanya diam dan terus melanjutkan donutnya. Sebenarnya ia kecewa begitu tau klo Mayuka yang membantu Ren memilihkan gantungan HP itu untuknya. Ninako awalnya sangat bahagia saat berpikir klo Ren memilih gantungan itu sendiri.

“Jadi itu punyanya Ninako-chan Benar-benar sangat imut.” Kata Mayuka lagi.
“Selamat makan!” ucap Andau.
Andau dari tadi memperhatikan wajah Ninako. Karena ia tau Ninako menyukai Ren jadi ia paham klo Ninako sekarang sedikit tertekan karena ada Mayuka disana.



Mereka berempat lalu pergi berbelanja lagi. Mayuka dan Ren berjalan didepan Ninako dan Andau.

“Mau beli apa lagi?” Tanya Mayuka pada Ren
“Beli apa lagi ya...” Ren mengingat-ingat.
Mayuka melihat Ren bawaannya banyak jadi ia menunjuk ke tasnya Ren. “
Sini ku bawakan!”
Ren langsung memberikan tasnya pada Mayuka “Terima kasih.”

Dibelakangnya Ninako terus memperhatikan keakraban sepasang kekasih itu. Andau juga terus memperhatikan ekpresi wajah Ninako.




Mereka sampai di traffic light dan lampu untuk pejalan kaki menyala hijau. Mayuka dan Ren buru-buru menyebrang.

Andau tiba-tiba berjongkok dan membetulkan sepatunya.
“Tunggu Ninako-chan, tali sepatu ku lepas!” seru Andau.
Ninako berbalik memperhatikan Andau dan sepatunya.

“Bukankah Ando tidak menggunakan sepatu yang tidak bertali?” protes heran Ninako sambil menujuk sepatu Andau.
“Yosh.” Andau tersenyum kecil karena kebohongannya terbongkar. Ando melihat Mayuka dan Ren sudah sampai disebrang jalan. Ia lalu melihat pada Ninako lagi dan mendekati gadis itu.
“Kalau begitu... Ayo kita melarikan diri!” ajak Ando
“Apa?” Tanya Ninako heran.




“Aku bilang melarikan diri!” ulang Ando sambil menggandeng tangan Ninako.
“Ren, belanjaan selanjutnya aku serahkan padamu ya?” teriak Ando pada Ren yang ada diseberang jalan.
“Ando?” Ren terbengong tidak sadar apa yang terjadi.

Ando tidak menunggu jawaban Ren, ia langsung menarik tangan Ninako “Lewat sini!”
Mereka berdua lalu berlari menyusuri jalanan.



Ren baru tersadar klo Ando membawa lari Ninako. Mayuka menarik tangan Ren.
“Tidak papa, belanjaannya kan tinggal sedikit lagi!” kata gadis itu
“Begitu ya?” ucap Ren tidak yakin dan terus memperhatikan kedua temannya yang berlari di sebrang jalan.
“Iya, ayo!” kata Mayuka lagi dan menarik tangan Ren untuk melanjutkan belanja. Ren menurut tapi ia terus menoleh kebelakang kearah Ando dan Ninako yang menghilang.



Ando dan Ninako terus berlari sampai mereka sampai di sebuah lapangan yang luas. “Berhenti disini.” Kata Ando melepaskan pegangan tangannya.
“disini?” gumam Ninako. Ando duduk dibawah pohon yang rindang untuk mengatur nafasnya.
“Capeknya.”

“Padahal belanjanya belum selesai.” Gerutu Ninako lagi
“Aku tidak percaya denganmu!”
“ Soalnya, muka kamu cemberut kayak gitu sih. Aku ngak bisa melihat mu seperti itu.” Ando memberi alasan.

“Pasti Miyuka-san tidak mengetahuinya kan, tentang aku menyatakan cinta ke pacarnya. Padahal aku sangat suka sama Ren-kun tapi... perasaanku ini tidak ada hubungannya dengan mereka, kan?”

“Padahal Ninako-chan sendiri yang minta diperlakukan seperti biasa saja, kan?” Tanya Ando.
“Ya, bener juga sih.”

“Aku tidak tahu sakitnya perasaan cinta Ninako, sih?”

“Kau benar. Jadi, aku setengah berterimakasih dengan mu. sesuai dengan yang Ando-kun katakan. melihat mereka bermesraan memang membuat hatiku sakit. Tapi itu bukan berarti aku menyalahkan semuanya ke dia. makanya aku setengah berterima kasih dengan mu. Terima kasih telah membawa ku keluar dari mereka.” Ucap Ninako sambil tersenyum pada Ando. Cowok itu juga ikut tersenyum lega melihat wajah Ninako sudah bisa tersenyum lagi.




Pagi harinya saat Ando sampai diparkiran sepeda sekolah, ia melihat Ren sudah berdiri disana dan sepertinya memang menunggu dirinya.
“Ada apa, menunggu ku pagi-pagi begini? Kau... marah tentang kejadian yang kemaren?” Tanya Ando sambil berjalan melewati Ren.

“Aku tidak marah. Bukankah menyenangkan untuk memiliki waktu sendiri untuk kami berdua? Ini semua karena sifat yang kau miliki itu... dengan melibatkan Kinoshita.” Kata Ren.
Di Filmnya kurang memperkenalkan siapa Ando itu. Tapi di manga Ando adalah cowok populer juga dan mempunyai banyak teman wanita yang suka diberi harapan palsu olehnya. Jadi maksud omongan Ren itu adalah Ren kuatir Ando hanya bermain-main dengan Ninako dan kuatir akan melukai gadis itu.

Ando menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Ren dengan tersenyum sinis.
“Apa yang kau maksud tentang sifat ku?”

“Maksudku... jika kau bermain-main dengan hatinya, itu sudah pembicaraan yang berbeda.”

“Kau pikir... Ninako-chan itu siapanya kamu?” kata ando ketus “Kau tidak punya hak untuk mengatakan ini, dan kau tidak berhak untuk itu...”lanjut Ando dan langsung pergi.



Saat pulang sekolah, Ninako berjalan menuruni tangga stasiun dan ia terjatuh. Ninako bangkit sambil menahan sakit dilututnya yang membentur lantai stasiun.
“Adauh...sakit sekali.” Gumamnya

“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya sebuah suara.
Ninako berbalik dan melihat Ren ada disana sedang tersenyum memperhatikannya.

“Ren-kun.” Seru Ninako terkejut.



Mereka lalu duduk disebuah kursi sambil menunggu kereta. Ninako teringat kejadian kemarin “Maaf, telah meninggalkan mu kemaren....”

Ren tersenyum mengerti “Itu karena Ando kan?Sebenarnya dia anak yang baik-baik, kok. Tapi jika dia menggangumu, bilang saja sama aku.”

Ninako tersenyum dan mereka terdiam.

“Oh iya.” Ninako teringat sesuatu dan ia membuka tasnya, mengambil sebuah bungkusan dan mengulurkannya pada Ren “Mau cokelat? Ini.”

Ren mengambil sebuah coklat “Terima kasih.”
Cowok itu lalu segera memakannya.




Ninako terus memperhatikan Ren yang sedang mengunyah dan membuat Ren jadi heran.

“Ada apa?”
“Menurutku cowok yang sedang makan cokelat itu lucu.” Jawab Ninako tersenyum.

“Kenapa?” Tanya Ren penasaran
“Misalnya, ada dua pasangan yang sedang kencan di cafe...memesan kue yang berbeda... kemudian mereka saling berbagi. Aku sangat menanti-nantikan peristiwa ini.
Tapi jika aku menjadi salah satu orang itu... pasti akhirnya akulah yang paling banyak makan. Meskipun dia terkejut... tapi dia tetap tidak berkata apapun dan kemudian memberikan kuenya untuk ku.” Cerosos Ninako penuh semangat membayangkan kejadian itu.

Ninako tersadar klo ia terlalu banyak bicara dan ia jadi malu “ haha… Maaf... apa aku menakutimu?”

“Tidak, menurutku itu sangat menarik. Sebelum aku dan Mayuka... aku juga tidak pernah makan yang manis-manis.” Ucap Ren.

“Benarkah?”

“Karena tuntukan kerja, dia juga mengontrol asupan yang manis-manis. Dia mungkin juga berpikir aku tidak suka makan yang manis-manis.”

Wajah Ninako langsung berubah begitu nama Mayuka disebut dan betapa Ren peduli dengan diet Mayuka sampai cowok itu membatasi makan-makanan yang manis demi Mayuka.
“Kau ini pria yang baik ya.”
“Apa?” Tanya Ren.
Ninako menggelengkan kepalanya, tidak mau mengulang ucapan tidak pentingnya.

“Boleh minta lagi?” Tanya Ren.
Ninako memberikan 1 kotak coklat itu pada Ren. “Ini untuk mu.”

“Terima Kasih.” Ucap Ren dan kembali menikmati coklat itu.



BERSAMBUNG PART 2



4 komentar:

  1. dorama ini bagus sayangg epsnya cuma dikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini movie bukan drama, aku potong jadi 4 bagian biar ga terlalu panjang tiap post di blognya... thanks sdh mampir baca (^_^)

      Hapus
  2. J-movie emg kren, thanks sinopsisnya ya,,

    BalasHapus
  3. Terimakasih atas sinopsisnyaa :)

    BalasHapus